RESAPI 2

ABSTRAK :
Setiap orang yang menjalankan tugas dan tanggungjawab akan berhadapan dengan berbagai macam tantangan dan hambatan. Orang dinyatakan berhasil, bukan sekadar yang sanggup mengatasinya tetapi menyediakan diri secara sadar negakui bahwa Allah hadir dalam proses itu.
“BERANI BERTANGGUNGJAWAB? SIAP 86!”
“1917”! Ini adalah judul dari sebuah film. Anda sudah menontonnya? Ini salah satu film terbaik yang pernah saya lihat. Pendapat saya ini bukan isapan jempol loh! Pada kenyataannya, “1917” didapuk sebagai “Best Picture” (film terbaik) pada ajang Film Festival Golden Globe di awal tahun 2020. Bahkan dia diunggulkan untuk meraih “Best Picture” di ajang Academy Award pada awal Februari ini.
Kisah film ini berlatarbelakang perang dunia I (1914-118) di saat tentara Inggris berhadapan dengan tentara Jerman. Jendral pasukan Inggris memerintahkan Tom Blake untuk memberikan informasi penting kepada pasukan Inggris di baris depan agar membatalkan penyerangan terhadap pertahanan Jerman. Misi ini menjadi sangat emosional karena kakaknya Tom ada di sana. Tanpa pikir panjang Tom menerima perintah itu, meskipun ia hanya mempunyai waktu lebih kurang lima belas jam dan harus melewati pertahanan Jerman yang berlapis-lapis. Dalam menjalankan misi ini, Tom mengajak temannya yang bernama William.
Wiilliam, biasa dipanggil Will awalnya merasa keberatan untuk menjalankan misi ini. Tetapi Tom bersikeras untuk tetap berangkat. Will tidak bisa menolak. Mereka melewati kejadian-kejadian yang menegangkan; mayat-mayat yang bergelimpangan, masuk ke dalam pertahanan Jerman yang menakutkan, melaui jebakan-jebakan bom, bahkan sampai mereka harus keluar goa-goa pertahanan Jerman yang runtuh. Film ini semakin menghadirkan situasi emosional karena di tengah perjalanan Tom gugur. Pergolakan batinnya Will pun nampak dan tidak bisa ditutup-tutupi. Sejak awal memang ia merasa ini adalah misi yang “gila” untuk dijalani, tetapi karena misi ini menyangkut Tom dan saudaranya, ia pun tidak bisa menolaknya . Kini Tom telah tiada dan Will terjebak dalam kesendian dan kesunyian. Ia harus menanggung tanggungjawab yang besar itu. Nyawa dari kakak Tom dan seribu enam ratus pasukan Inggris di baris depan ada di pundaknya.
Waktu terus berjalan. Ternyata Will tidak berhenti. Will melanjutkan misi. Ia tahu harus berhadapan dengan banyak tentara Jerman tetapi itu tidak menyurutkan langkahnya. Di gelapnya malam ia harus berhadapan dengan penembak jitu, lalu bergulat dan saling baku tembak dengan beberapa tentara Jerman. Kisah menegangkan itu berakhir ketika ia memutuskan untuk terjun ke dalam sungai, sampai hanyut terbawa arus, justru menghantarkan dia berjumpa dengan pasukan Inggris di baris depan. Apakah selesai sampai di situ? Tidak! Ia ditolak kehadirannya oleh pimpinan pasukan. Sebagai pembawa surat perintah Jendral, ia tidak diakui dan dipercayai. Will tidak menyerah begitu saja! Sebagai prajurit yang harus menjalankan tanggungjawab, Will sadar bahwa misi ini harus diselesaikan. Dengan semangat, ia kembali meyakinkan pimpinan pasukan Inggris di baris depan untuk membatalkan penyerangan. Dan akhirnya berhasil! Bahkan ia pun berjumpa dengan kakak dari Tom.
Ada hal menarik yang bisa dipelajari dari “1917”, yaitu sebuah tanggungjawab harus dijalani sampai tuntas meskipun ada harga yang harus dibayar. Tantangan dan hambatan pasti dijumpai. Tergantung kita mau menghadapinya atau mengalah kepada mereka.
Taman Getsemani menjadi saksi! Yesus dalam Matius 26:36-46 mengalami pergolakan batin tatkala jalan yang harus ditempuhnya adalah jalan derita. Sebagai pribadi yang menampilkan sisi kemanusiaan, Yesus menggambarkan pribadi manusia yang pasti sulit menghadapi tantangan dan hambatan yang menyelimuti. Tetapi lebih dari sekadar sosok kemanusiaanNya, Yesus harus menjalani tanggungjawab yang harus dituntaskan. KeilahianNya mengajarkan bahwa bukanlah kehendak manusia yang sanggup melalui hambatan dan tantangan dalam menjalankan tanggungjawab, melainkan balutan kasih dan kehendak Ilahi, yaitu Allah sendiri yang akan menghantar manusia sanggup melampaui setiap tantangan dan hambatan yang menghadang, “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini lalu daripadaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (ayat 39). Namun taman Getsemani tidak menafikan bahwa tantangan dan hambatan bisa saja menjatuhkan manusia dalam ketakutan dan kecemasan ketika menjalankan sebuah tanggungjawab. Tetapi juga tidak bisa ditolak bahwa tanggungjawab adalah anugerah Tuhan dan di dalam menjalaninya, dengan setiap situasi dan kondisi yang terjadi, di situ juga Allah hadir menemani dan menuntun.
Dunia juga dikejutkan keberadaan Virus Corona yang mengguncang China dan beberapa negara lainya. Terlepas adanya beberapa kontroversi tentang keadaan virus ini, ada kejadian unik yang sempat “viral” di media sosial, yaitu menggemanya “ Wuhan Jiayou”. Seruan atau bahkan teriakan yang dilakukan penduduk kota Wuhan untuk saling menopang dan memberi semangat satu terhadap lainnya. Terlebih kepada tenaga medis, baik dokter dan perawat, yang berjuang berjam-jam tanpa henti untuk mengobati para pasien. Begitu pula para ahli yang terus-menerus berusaha mencari dan menemukan anti virus. Mereka berjuang tanpa menyerah. Ada tugas dan tanggungjawab di pundak mereka untuk melepaskan masyarakat kota dari virus ini dan status kota yang diisolasi oleh pemerintah China.
Pengurus OSIS SMAK HI 2020 telah dibentuk. Bahkan beberapa hari lalu setiap pengurus menjalani Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK OSIS). Setiap pribadi dipanggil untuk mengemban tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Ada begitu banyak program kerja yang dicanangkan dan akan dijalani. Kesuksesan bukan melulu bicara soal “goal” yang tercapai, tetapi menempatkan diri sebagai sejatinya manusia yang secara sadar mengakui bahwa di setiap tantangan dan hambatan dalam menjalani tugas dan tanggungjawab sesungguhnya ada kuasa Ilahi yang berkehendak. Allah yang rela menghantar dan menuntun di setiap langkah yang diderapkan.
Renungan ini hendak menyatakan bahwa setiap kita pastilah mengemban tugas tanggungjawab. Siapapun kita dan dimanapun kita berada. Maka percayalah di saat tantangan dan hambatan datang menghampiri, di situ juga Allah hadir!