RESAPI 5

Dewasa Jasmani : “Mens sana in corpore sano”

Abstraksi : setiap orang ingin mencapai hidup berkualitas. Salah satu hal yang menandakannya adalah kempuan untuk berdisiplin dalam berolahraga.  Tetapi berolahraga saja tidak cukup karena ada hal-hal lain yang berkaitan.

Ashraf Sinclair, suami dari Bunga Citra Lestari, meninggal dunia pada dini hari, 17 Februari 2020. Berita tentang kematiannya cukup mengejutkan banyak pihak. Dia menghembuskan nafas terakhir di usia 40 tahun, usia tergolong muda dan termasuk dalam golongan usia produktif. Banyak tersebar di media sosial alasan-alasan meninggalnya Ashraf. Salah satunya  adalah “over training”,  giat berolah raga. Banyak orang mencoba memastikannya, jika benar pemberitaan itu, maka secara tidak langsung membawa kita mengingat kembali Adji Massaid, artis sekaligus anggota DPR RI  dan Basuki, pelawak yang besar dalam grup Srimulat. Mereka  meninggal ketika sedang atau seusai berolahraga. Pertanyaannya mengapa  ketika rajin berolahraga justru mereka meninggal? Satu kesimpulan yang berkembang di masyarakat, Jantung!

 

Muncul pembicaraan-pembicaraan menarik di media sosial, yaitu begitu dikejutkannya masyarakat karena Ashraf menunggal di usia 40 tahun. Mengapa harus di usia 40 tahun? lalu apakah ada yang salah dengan berolahraga?

Paulus menyatakan “karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan bagiku (Filipi 2:21 ). Hidup bukanlah soal kuantitas, tetapi melulu soal kualitas, soal mencari makna hidup, yaitu mengerti dengan apa selayaknya mengisi hidup ini, bagaimana memanfaatkan waktu yang tersedia, dan menyadari apa saja yang dilakukannya agar hidupnya terarah dan berarti.  Hidup ini adalah anugerah Allah maka patut disyukuri dan dipertanggungjawabkan. Paulus menegaskannya bahwa hidupnya berusaha merespons Allah, Sang Sumber Hidup,

Jika melihat kejadian Ashraf, Adjie Massasid, dan Basuki, salahkah kita berolahraga?

Rasul Paulus dalam surat-suratnya beberapa kali memunculkan ilustrasi-ilustrasi mengenai dunia olahraga. Ini menandakan surat-surat yang ada terebut diberikan kepada mereka. sahabat atau jemaat, yang amat dekat dengan dunia olahraga.  2 Timotius 4:7 menyatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Jelas, bahwa tidak ada salahnya orang Kristen berolahraga. Bahkan Alkitab jelas sekali mengatakan bahwa kita perlu memelihara tubuh kita dengan baik (1 Korintus 6:19-20). Efesus 5:29 menyatakan, “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, …”

Rasul Paulus juga menyebut tentang latihan badani dalam ilustrasi mengenai kebenaran rohani. Ia menyadari bahwa ada begitu besar upaya yang dicurahkan dengan bersusah-payah guna mencapai keberhasilan atau juara.  1 Korintus 9:24-27, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

Dengan begitu, maka dinyatakan berolahraga di mata rasul Paulus adalah sesuatu kegiatan yang sangat baik. Proses yang diberlakukan sangat detail dan jelas, maka tidak salah kematangan rohani pun dilalui dengan proses yang detail.

“Mens sana in corpore sano”, adalah sebuah kutipan yang berarti Di dalam Tubuh Yang Sehat Terdapat Jiwa Yang Kuat. SEMBOYAN ‘di dalam pikiran nan sehat terdapat pada tubuh nan sehat’ sejak lama tersohor sebagai bagian ajakan hidup sehat. Ujaran tersebut dalam bahasa Latin berbentuk, mens sana in corpore sano, merupakan karya sastra seorang pujangga Romawi, Decimus Iunius Juvenalis, pada karya bertajuk Satire X, sekitar abad kedua Masehi. Kemudian, bagaimana semboyan tersebut bisa terkenal hingga sekarang? Hal tersebut tak lepas dari peran John Hulley asal Inggris. Dia menggunakan semboyan klasik itu sebagai motto untuk Klub Atletik Liverpool pada 1861.  Di masa lampau, pada masa Romawi, ‘mens sana di corpore sano’ hanya disebutkan satu kali pada pelbagai literatur. Penyair Juvenal berkata, “Orandum est ut mens mens sana di corpore sano,” lebih kurang berarti “Seorang pria harus berdoa untuk pikiran sehat di dalam tubuh nan sehat.” Juvenal pun tidak menyinggung tentang olahraga sama sekali. John Hulley kemudian membongkar kalimat itu dari konteksnya, lalu dalam arti lebih segar, semboyan itu lantas digunakan para pemuja olahraga di seluruh dunia.

Menuju hidup berkualitas, seseorang berproses bertumbuh menjadi dewasa. Salah satu hal penting bahwa seseorang membutuhkan kedewasaan dalam bidang jasmani. Hal-hal yang dilakukan adalah istirahat dengan cukup, makan dengan cukup, dan bekerja dengan cukup.  Pastikan ketiganya dijalani dengan baik dan penuh tanggungjawab.

Setiap orang disarankan untuk memiliki kualitas tidur selama 6-8 jam. Dalam waktu istirahat itu, sel-sel tubuh diproduksi kembali. Nah, sel-sel tubuh itu berkaitan dengan asupan nutrisi yang dikonsumsi oleh orang tersebut. Seseorang yang “over training” seharusnya juga menjaga pola istirahat yang cukup, asupan nutrisi yang baik. Suplemen-suplemen yang dikonsumsi pun perlu diawasi dengan cermat. Semuanya menuju hidup berkualitas, sebab waktu hidup ini adalah anugerah Allah, bertanggungjawablah!

DEWASA secara JASMANI itu perlu!