RESAPI 6

Absrtaksi:

Sering kali seseorang menjadi “sok tahu” untuk dianggap benar, hebat, bahkan maha tahu, serta mencari pengaruh. Tetapi itu bukan jalan yang ditawarkan oleh Kristus Yesus.  

 

“Sok tahu”?    

Pernahkah anda menjadi orang yang “sok tahu”? Saya pernah! Suatu waktu saya bersama beberapa teman laki-laki pergi berlibur ke daerah Sukabumi. Dengan semangat hidup hemat, maka kami mengambil keputusan untuk memasak sendiri. Semua kebutuhan sudah disiapkan dari Jakarta. Saya tidak bisa memasak tetapi “sok tahu” soal memasak. Pada hari kedua, menu sayur pada saat makan malam adalah sayur asam, Dengan percaya diri saya katakan, “sini gua yang buat, gua bisa!” Kacang panjang, kacang tanah, labu, melinjo, asam, semuanya disiapkan. Bak koki terkenal saya memulai pertunjukan. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Anda bisa menebaknya khan? Karena “sok tahu” sayur asam berubah menjadi “sayur aneh.”  Bukan sayur asam yang jadi, melainkan sayur yang terasa hambar, jauh dari cita rasa sayur asam. Alhasil kami makan malam hanya dengan tempe dan telur dadar. Itulah ulah Sang Koki “ sok tahu”

Ada sebuah film India, tahun produksi 2015, “Bajrangi Bhaijaan”. Film yang mengisahkan tentang seorang pemuda India yang bernama Pavan, beragama Hindu, berjumpa dengan seorang perempuan kecil asal Pakistan, beragama Islam. Anak kecil ini, namanya Saidah,  tidak bisa bicara karena bisu. Mereka adalah sahabat juga saudara. Perjumpaan mereka ini bermula dari kisah Saidah dan ibunya ke India dalam rangka berkunjung ke suatu tempat di Delhi untuk berdoa agar ia bisa bicara. Ketika perjalanan pulang ke Paskitan, pada satu kesempatan kereta yang ditumpangi Saidah dan ibunya itu berhenti untuk beberapa saat. Tanpa sepengetahuan ibunya, Saidah tiba-tiba turun untuk membebaskan seekor anak kambing yang terperangkap dalam semak. Tidak lama kemudian kereta pun jalan kembali, Saidah bergegas naik ke salah satu gerbong. Tetapi amat disayangkan, kereta yang dinaikinya adalah kereta yang salah. Justru kereta itu membawanya kembali ke Delhi.

Kemudian kisah berlanjut pada perjumpaan Saidah dengan Pavan.  Singkat cerita Saidah dirawat oleh Pavan. Mereka tinggal di rumah teman ayah Pavan, yang keberulan anak perempuannya adalah pacar Pavan. Pavan tidak mengetahui siapa Saidah ini, berasal darimana, dan siapa orang tuanya. Menjadi sulit karena Saidah seorang bisu. Dalam beberapa kesempatan, kebiasaan-kebiasaan Saidah sesungguhnya bisa menjadi petunjuk bagi Pavan, tetapI karena “sok tahu” Pavan tidak memperhatikan dengan cermat dan teliti.

Saidah setiap kali disajikan makan khas India, ia tidak menyentuhnya, ia memilih pergi ke rumah keluarga muslim dan makan di sana. Melihat kejadian itu Pavan menggendong Saidah keluar dari rumah keluarga muslim itu. Beberapakali diajak berdoa kepada Dewa, Saidah memilih masuk masjid terdekat dan melakukan sholat. Pavan dan pacarnya belum juga “ngeh”. Sampai pada akhirnya menjadi jelas, yaitu ketika semua orang sedang menonton siaran langsung pertandingan Kriket antara India melawan Pakistan di televisi, hanya Saidah yang siap membela Pakistan. Ketika tim Paskistan memenangi pertandingan ia berlari ke depan televisi dan bertepuk tangan kegirangan, bahkan ketika di layar televisi memunculkan bendera Pakistan, Saidah mendekatkan bibirnya ke layar dan menciumnya. Spontan semua orang kaget dan menjadi tahu bahwa Saidah adalah orang Pakistan. Dengan “sok tahu” Pavan memberikan Siadah kepada seseorang di biro perjalanan yang berjanji akan menghantar Saidah kembali ke Pakistan dengan selamat. Hasilnya justru Saidah hendak dijual ke rumah bordil.

Film ini diakhiri dengan dramatisasi yang menyentuh ketika Pavan sendirilah yang menghantar pulang Saidah ke Pakistan untuk bertemu kembali kedua orangtuanya. Di bagian ini, Pavan tidak lagi bersikap “sok tahu” tetapi dengan rendah hati mau belajar dan menggali informasi dengan cermat.

Tidak sedikit manusia, karena gengsi, menjadi orang “sok tahu.”  Ia ingin dianggap yang paling benar, paling besar, paling berpengaruh, dan paling tahu segala hal. Di tengah-tengah pekerjaan, pelayanan sekalipun, ternyata tanpa disadari muncul juga orang-orang yang “sok tahu”. Soal ini tidak perlu diragukan. Apa yang dilakukan bukan menjadi sarana berdampak positif dan membagikan berkat, justru menjadi ajang “sok tahu”. Merebut sebuah penghargaan yang dinilai manusia paling mulia: menjadi paling benar, paling besar, dan paling berpengaruh.

Yesus tidak melihat hal ini sebagai yang paling berharga di kehidupan ini. Menjadi orang “sok tahu” bukan pokok pelajaran yang diberikan kepada murid-muridNya. Sebab Ia saja menegur murid-muridNya yang mempermasalahkan siapa yang paling besar di antara mereka. Bukan menjadi yang paling “sok tahu” yang diminta oleh Yesus, melainkan menjadi orang yang melayani dengan rendah hati. Itu yang diajar oleh Yesus. Anak Manusia itu harus menempuh jalan derita bahkan sampai pada kematian. Untuk informasi ini saja para murid sulit memahaminya dan bahkan menolaknya. Dalam Matius 16:21-28 digambarkan Murid-murid sulit memahami maksud Yesus. Dinyatakan bahwa Petrus pun menarik Yesus dan berkata bahwa “ Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (ay.22). Dengan keras Yesus membalas Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau batu sandungan bagiKu…”       (ay. 23).

Dengan sikap “sok tahu” para murid menutup hal-hal baru yang berguna sebagai informasi tambahan bagi perkembangan iman mereka.

Minggu Pra Paskah mengajak kita untuk mulai meruntuhkan sikap “sok tahu” sambil menegaskan dengan cermat dan teliti akan teladan Kristus yang memilih jalan derita, bahkan sampai mati di kayu salib.

Ups… saya berhenti di sini saja, sudah terlalu panjang, karena nanti saya disebut orang yang “sok tahu”. Selamat memasuki Minggu-minggu Pra Paskah, siap menjadi pribadi yang melayani dan berdampak positif bagi orang sekitar.